Selasa, 08 Januari 2013

PAHLAWAN KELUARGA



Tidak semua orang setegar wanita yang satu ini. Menjual tenaganya untuk orang yang membutuhkan jasanya. Dia bernama Ni Made Sulastri (50) yang bekerja sebagai buruh suun di pasar. Dia berasal dari Desa Jenang Dalem, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Sulastri menggeluti pekerjaan ini semenjak suaminya meninggal 15 tahun yang lalu. Dia harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi dua orang buah hatinya, dan dirinya sendiri. Anaknya pertamanya yang bernama I Putu Somanadi (25) terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya. Somanadi pun membantu ibunya bekerja sebagai buruh suun di pasar. Sedangkan  anak keduanya yang bernama Made Sunadi (16)  harus puas hanya bisa bersekol sampai SMP.
Sulastri adalah sosok wanita yang jujur. Saat saya hendak bertanya, dia mengatakan tidak mengerti bahasa Indonesia. Sulasti hanya mengerti bahasa Bali saja.
Setiap harinya Sulastri dan anaknya  berangkat dari rumah pukul 4 pagi dengan menaiki bemo. Ongkos bemo dari rumah ke pasar adalah empat ribu rupiah. Hal ini kiranya tak sebanding dengan penghasilannya yang berkisar antara 20ribu-30ribu rupiah per hari.
Banyak suka duka yang dialaminya saat sedang bekerja. Dia merasa senang sudah diberi kesehatan sehingga dapat bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pernah pula suatu ketika, ada orang yang tidak membayar setelah menggunakan jasa suunnya. Walaupun merasa sedih, tetapi Sulastri tetap bersemangat untuk menarik orang yang ingin menggunakan jasanya. Tetap bergelut dengan suunan, dan barang-barang yang akan disuun.
Sosok Sulastri adalah teladan bagi para wanita. Pengorbanan untuk keluarga dan tanggung jawabnya merupakan nilai keteladanan yang perlu ditiru. Dia adalah wanita yang menjadi pahlawan keluarga.



2 komentar:

  1. kasihan ibu itu, pendapatannya sangat kecil untuk membiayai hidupnya, apa penghasilan itu dia dapat dari kerjanya bersama anak pertamanya? memang sekali suun itu berapa upah yang dia dapat?
    dan apa aktivitas anak perempuannya setelah putus sekolah?

    BalasHapus
  2. yuli, apa kamu punya foto ibu ini?
    supaya pembaca lebih yakin dengan tulisan kamu

    BalasHapus